Jumat, 28 Mei 2010

SITUS JEJARING SOSIAL
“FACEBOOK”


Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Ia membutuhkan orang lain dan ia pun dibutuhkan oleh orang lain. Kontak-kontak sosial di masa lalu banyak dilakukan melalui kontak langusng di dunia nyata. Namun sekarang, dengan semakin majunya teknologi internet, maka kontak sosial dilakukan secara maya. Bermunculanlah komunitas atau jejaring sosial di Internet yang begitu cepat menyebar dan dampaknya begitu luar biasa. Facebook kini menjadi salah satu kosakata penting dalam pergaulan sosial di tingkat global. Kalangan profesional, pengusaha,politisi, selebriti, mahasiswa, siswa sekolah, dan ibu rumah tangga di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia, kini memiliki jejaring sosial Facebook, karena facebook dapat memfasilitasi proses peran serta masyarakat (involvement) serta dapat menjembatani bagaimana konsep dan praktek partisipasi masyarakat secara luas (inclusion). Selain menjadi sarana pergaulan dunia maya, Facebook juga dimanfaatkan sebagai wahana berbagi informasi tentang beragam kegiatan dan alat promosi produk. Anggota Facebook tak sekadar mencari sahabat, tetapi juga dapat menulis catatan dan mengunggah (upload) foto-foto, yang dapat dibaca dan dilihat para sahabat.

Di facebook, siapa saja dapat menciptakan grup apa saja dan mengajak anggota facebook menjadi bagian dari grup tersebut. Kalangan profesional yang bergerak dalam bidang public relations (PR) sering kali memanfaatkan facebook sebagai sarana informasi yang efektif. Informasi acara dan kegiatan, baik komersial maupun yang nonkomersial, dapat ditemukan di sini. Banyak selebriti, artis, dan musisi yang bergabung dalam Facebook, selain untuk menjaga komunikasi dengan para penggemar, juga sarana efektif untuk informasi acara. Event organizer (EO) mempromosikan kegiatan lewat facebook dengan mengundang sebanyak-banyaknya orang untuk datang. Facebook langsung menuju sasaran. Saat awal internet diperkenalkan kepada publik, banyak yang menduga teknologi ini akan membuat manusia semakin menjadi individualis. Sekarang dugaan ini terbukti tidak benar. Internet ternyata tak membuat penggunanya menjadi soliter, tapi malah sebaliknya: makin solider. Ini telah dibuktikan oleh jejaring sosial facebook. Facebook menjadi media bagi forum pergerakan sosial tematis alternatif untuk mempengaruhi opini public, beberapa contoh seperti, suksesnya Obama yang ditiru untuk menggalang dukungan bagi Prita Mulyasari yang tersandung kasus pencemaran nama baik, dan Bilqis terkait dukungan untuk mendapatkan koin bagi penyembuhan penyakitnya.

Politisi memanfaatkan Facebook sebagai sarana untuk menarik pendukung dan menjadi salah satu alat kampanye. Barack Obama, salah satu contoh politisi yang sukses memanfaatkan Facebook. Salah satu faktor keunggulan Obama atas Hillary Clinton untuk memperoleh kursi dan maju sebagai calon Partai Demokrat adalah kejelian tim suksesnya memanfaatkan jejaring sosial Facebook. Belajar dari kesuksesan Barack Obama, kini banyak yang bergabung masuk Facebook untuk mendekatkan diri dengan para pendukung. Dukungan ini ditiru untuk menggalang dukungan bagi Prita Mulyasari.

Dengan menggunakan internet, para facebooker bisa memberikan dukungan semudah mengirim sms untuk mendukung. Ketika pemberitaan tentang Prita Mulyasari muncul bertubi-tubi di berbagai media massa, terutama televisi, opini masyarakat pun segera terbentuk. Terlepas dari debat hukum yang menyertainya, opini yang diikuti oleh simpati terhadap Prita ini pun segera menguasai ruang publik. Masyarakat menilai dengan logika sederhana saja. Prita dianggap sebagai korban yang, seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Ia dianggap mewakili keadaan sebagian besar warga yang tak punya daya tawar di depan penyedia jasa layanan kesehatan, lembaga peradilan, dan penguasa modal. Karena putusan lembaga peradilan dianggap tidak memenuhi rasa keadilan, maka yang terjadi adalah “pengadilan masyarakat”. Para warga negara yang tak begitu paham pasal-pasal itu pun menggalang dukungan terhadap Prita. “Koin Keadilan bukan mencari sensasi apalagi berniat memecahkan rekor. Ini adalah cara kita menyampaikan pesan tentang rasa keadilan yang terlukai,” begitu pesan resmi gerakan Koin Prita (Koin Keadilan).

Suksesnya gerakan ini jelas tak bisa dipisahkan dari peran media massa. Dari Facebook, kampanye Koin Keadilan menyebar ke media-media massa, terutama televisi. Media inilah yang bisa menjangkau lapisan masyarakat paling rendah. Secara sosiologis, ini adalah gerakan sosial yang efektif. Motor gerakan ini adalah para facebooker yang dalam kajian sosiologi dikelompokkan sebagai masyarakat kelas menengah. Sejarah membuktikan lapisan menengah inilah yang biasanya menentukan perubahan di sebuah masyarakat. Karena sumbangan berupa uang koin, maka semua lapisan masyarakat bisa ikut berpartisipasi. Bukan hanya kelas menengah tapi juga termasuk kelas paling bawah.

Contoh lain, kasus penyakit yang diderita Bilqis, anak usia setahun lebih yang menderita sakit langka sehingga harus dilakukan operasi cangkok hati untuk menyelamatkan jiwanya. Sang ibu dan orang-orang dekat Bilqis memanfaatkan jejaring sosial di facebook dan media massa sehingga tak sampai sebulan sudah terkumpul dana Rp1,2 miliar. Dana itu sudah jauh melebihi biaya operasi Bilqis. Tentu saja masih sangat banyak manfaat lain dari internet, khususnya bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Dari kasus-kasus yang timbul akibat dampak kemajuan teknologi informasi, seperti facebook di satu sisi online sangat positif dan memberi manfaat luar biasa bagi yang ingin mendapatkan informasi. Dengan kata lain, Facebook menjadi media ekspresi diri masyarakat dalam menyatakan solidaritasnya. Ia juga memfasilitasi berbagai solusi atas problem-problem aktual kemasyarakatan. Inilah yang membuat komunitas tematis lahir setiap hari di Facebook.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar